Langkau ke kandungan utama

(1)-BERIMAN YANG BENAR SYAHADATNYA(2)BERIMAN TETAPI MENNDUSTAI.

1)BERIMAN DALAM SYAHADAT ISLAM.
2)BERIMAN TETAPI MENDUSTAI.

Surat al-Baqarah الم Arab-Latin: 

alif lām mīm Terjemah Arti:  

ALIF LAM MIM.


ALIF'LAM ALIF MIM.(Alam).
Alif satu awal yang tunggal dan mim akhir tunggal dalam huruf dan abjadnya itu penutup alam ayat sebuah 

Kehidupan di dunia hingga ke akhiratnya berada dalam sebuah kitab Alquran.

Berimanlah kepada kitab Alquran.

Yang terisi qalamnya sebuah sanadnya hadist yang sohih dalam makna dan erti yang tersurat dan tersiratnya adalah yang di pertuntutkan oleh Rabbnya di atas kekuasaanya itu yang bersifat maha segalanya sebagai petunjuk arah qalamnya ilmu yang terungkai maksudnya sebagai petunjuk jalan yang benar dan diredhainya.

Bagi yang cerdik pandai dalam berilmu iQ yang tinggi dan sihat sahaja akan dapat merungkai sesuatu kejadiannya di sekeliling tidak terlepas dari bersebab dan punyai alasanya adalah penciptaanya sebagai sebuah ilmu tanda tanya? dan beserta jawabannya yang tepat bersaksi sebuah alqurannya.

Bagi yang mengetahui untuk mendapat akan kefahamannya maka beroleh keberuntunganya di dunia dan akhirat mendapat bahagia.

Maka bagi yang tidak tahu untuk mendapat akan pahamnya berdoalah bermohon agar di berikan hidayahnya untuk mencapai matlamat dan tujuan tujuan apakah hidup ini semata untuk melalaikan akan tentang haqnya dengan besuka ria tanpa mahu mencari galikan keertiannya sebuah kehidupan yang memaknai adalah merugikan dirinya sendiri.


Semoga memberi pengajaran dan manfaat pada diri dan lainnya untuk mencari jalan pulang ke syurga idaman perlukan sebuah pegertian yang merangkumi di setiap peribaanya diri di keberadaan yan di berkehendakan...Aamiin ya Rab


1.  Alif laam miim. Terjemahan Makna Bahasa Indonesia (Isi Kandungan) Huruf-huruf ini dan huruf-huruf lainnya dari huruf-huruf yang terputus di awal-awal sejumlah surat Alquran, di dalamnya terkandung isyarat atas kemukjizatan Alquran. Maka sungguh telah terjadi tantangan dengannya terhadap orang-orang musyrik dan terbukti mereka tidak mampu untuk membantahnya, padahal huruf-huruf tersebut merupakan komponen tersusunnya bahasa Arab. Karena itu ketidakmampuan bangsa Arab untuk mendatangkan yang semisal dengan Alquran (Padahal mereka adalah manusia yang paling fasih berbahasa Arab) menunjukkan bahwa Alquran adalah wahyu dari Allah 


ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

 żālikal-kitābu lā raiba fīh, hudal lil-muttaqīn  

2.  Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, Alquran itu adalah kitab yang agung yang tidak ada keraguan bahwasanya  ia datang dari sisi Allah, maka tidak benar bila ada seseorang yang ragu-ragu terhadap nya karena begitu jelasnya alquran itu. Dimana orang-orang yang bertaqwa dapat mengambil manfaat dengannya berupa ilmu yang bermanfaat dan amal sholeh dan mereka itu adalah orang-orang yang takut kepada Allah dan mengikuti hukum-hukum-Nya. 

ILMU YANG BERAMAL.

1-Ada amal tanpa ilmu sesat dijalan yang lurus kerana tidak mengetahui apa tujuannya beramal kerana amal yang dilakukan hendaklah diseiringkan niatnya,keikhlasannya dalam perbuatan amal baiknya bersaksi Allah Azzawajalla yang haq,sesuatu apa pun amalan baiknya yang ingin dilakukan hendaklah berniat yang ikhlas,syukur,sabar,redha dalam keimanan diri.

2)Ada ilmu tanpa beramal mengundag nestapa diri yang berpanjangan sesat dijalan yang lurus kerana mereka terdiri dari golongan yang menyombongkan diri nya sendiri hinggakan tanpa sedar duduknya hati di diri didalam keriakanya dan beranggapan diri yang sudah cukup sempurna akan ilmunya yang dimiliki,tidak mahu merubahkan diri yang sejatinya sebagai ummat khalifahnya dimuka bumi ini,tidak mahu berusaha melaksanakan tuntutan merubahkan diri yang tidak sempurnanya kearah  pembaikannya diri yang lebih baik,tidak mahu beramal berkogsi akan ilmunya kepada lainnya juga tidak mahu mengambil ilmunya yang benar dari yang lainnya yang dia anggap tidak sempurna dimatanya,tidak lagi mahu ditegur dan di nasihati akhirnya hati itu akan terus menolak setiap kebenaran yang hadir dijalannya hingga tidak mahu beramal dengan segala ilmu yang dimilikinya akan menambahkan titik hitam dihatinya menjerumus diri kelembah pembalasan Rabbnya," ini lah padahnya taksub didalam berilmu hingga lupa ilmu itu adalah pinjaman semata didunia sebagai petunjuk arah kebenaranya diri dan semua dijalan yang lurus dan diredhainya.


3)Berilmu yang beramal inilah yang diredhainya.Tahu akan ilmunya di peribaannya diri untuk mendapat paham akan ilmunya,yakin akan ilmunya dan sentiasa terus tawadhoknya kepada sang penciptanya dengan berusaha,berdoa,tawakal dalam tawadhoknya hati untuk terus melaksanakan tuntutan ilmunya terhadap dirinya sendiri untuk mengubah jatinya diri kearah pembaikannya diri sendiri dan tanpa jemu mengajak manusia lainya mengikut jejaknya besama ke jalan amal yang diredhainya adalah tuntutan Penciptanya yang haq.

JADILAH DIRI CONTOH KEPADA YANG LAINYA SEBAGAI IKUTAN DARI DIRI YANG BERAMAL SOLEH DAN SOLEHA.

'Jadilah diri yang memayungi setiap insani lainnya yang dihujani berbagai deritanya hidup diatas ujiannya berkehendakan ke atas mereka maka belajarlah diri setiap insani lainnya seperti sekaki payung itu sebagai pelindung kepada manusia yang lemah serta memerlukan pertolongannya,"

'Belajarlah diri yang memauti seperti dahan pokok yang terpaut oleh rantingnya sebagai pautan dedaunan adalah diri yang sanggup berikhlas memberi kedua bahunya sebagai pautan untuk memikul beban kesusahan manusia lain sebagai pertolongannya diri yang semampunya kepada manusia lain yang memerlukan,"

'Belajarlah seperti aur dengan tebingnya tidak dapat dipisahkan lagi seperti diri yang sentiasa menyayangi insani lainnya adalah tuntutan diri yang ikhlas berbuat akan kebaikan terhadap Rabbnya tanpa mengira akan imbalanya, sentiasalah teguh bersiap sedia untuk menyalur bantuan kepada insani yang dahagakan ketolongan dari insani yang terlayaknya adalah diri yang bersifat mulia,"

'Belajarlah seperti persisiran pantainya walaupun di pukul ombak badainya saban waktu dan detiknya yang sentiasa di hambat oleh gelombang lautannya tetapkan akur menanti walaupun ribut petir menyambar persisirnya adalah seperti diri yang tabah dan setia di uji oleh Rabbnya tanpa mahu lari tetapkan dia berdiri teguh, walau jatuh tidak kalah walau pergi tidak gentar tetapkan terus rela di uji badai geloranya nafsu duniawi adalah ujian kekuatan diri yang beriman,"

'Belajarlah seperti Nabi Muhammad kekasih Allah Azzawajjalla yang sentiasa mencintai Rabbnya tanpa melebihi cintanya diri kepada yang lainnya seperti juga kita, sayangi dan cintai akan rassul dan Rabbnya tidak melebihi akan sesuatu yang lain darinya adalah yang memberkatikan kehidupan kita didunia dan akhiratnya,"

'HIDUP INI BELAJAR," MUHASABAHLAH DIRI KE ARAH PEMBAIKAN DIRI SEJATI INSANINYA DITUNTUT OLEH RABBNYA,"

'Beberapa perumpamaan ini mempunyai maksud dan pengertiannya yang mendalam serta bermanfaat untuk setiap insani mengetahuinya di dalam sebuah perjalanan kehidupannya di dunia ini lagi apakah bekalannya di akhirat selain yan wajib dan sunnat di laksanakan terbawa kesana sahaja mencukupkan diri kita menjadi penyelamat di akhirat kelak tanpa mempedulikan haq asasinya manusia lain dengan sengaja atau tidak yang telah di letakan oleh Rabbnya dibahu kita itu telah di abai sewenangnya tanpa alasan kukuh terselamat dari api NERAKA JAHANAMNYA kerana bersifat kufur mementingkan dirinya sendiri melepaskan tengkuknya sendiri lalu dengan sikap angkuh dan bongkaknya menunding jari dengan berbagai tuduhan,hinaan,perkataan yang tidak berasas dan menghukumnya dengan sebuah kesalahan yang nyata setiap musibahnya,kesedihannya,kesakitannya,kesusahannya adalah sebuah ujian dari yang Esa walaupun dengan usaha dan doanya tetapkan ia didalam keadaan sebegitu adalah takdir yang tidak dapat terubahkannya lagi adalah di atas kehendak dan di atas kekuasaan'Rabbnya,"yang sepatutnya menjadi kesedaran kepada insani lainnya yang dipertuntutkan oleh Allah Azzawajjalla yang(haq) ke atas setiap bahu insan di dalam naugannya kepada diri yang di berkehendakan serta memerlukan itu dapat diberi akan haq,"
Beserah hanya kepada Rabbnya adalah diri yang tawadhok sesungguhnya tanpa sang pencipta siapalah diri yang terlalu mengharapkan manusia itu sendiri untuk memberi akan ketolongannya hanya melalui doa,usaha dan tawakal yang sebenarnya in sha Allah akan dipermudahkan lambat launnya,"

Islam adalah yang sempurna, semua jenis kebaikan telah diperintahkan dan semua jenis keburukan telah diharamkan. Allâh Azza wa Jalla berfirman di dalam kitab suci al-Qur’an:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Sesungguhnya Allâh menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allâh melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan baghyu  (permusuhan; melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar). Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. [An-Nahl/16: 90]

Dalam kalam Al-Quran terdapat-ayat yang memerintahkan agar setiap manusia perlu menjaga diri mereka dan juga orang-orang disekeliling mereka daripada melakukan perkara maksiat atau dosa.

Firman Allah SWT yang bermaksud: “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah diri kamu serta ahli keluarga kamu dari api neraka.” (al-Tahrim: 6).

Imam Besar Masjid Al-Azhar, Syeikh Muhammad Sayyid Thanthawi dalam tafsirnya berkata ayat ini ditujukan kepada setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah SWT agar menjauhkan diri mereka daripada api neraka dengan melakukan perkara kebaikan dan menjauhi daripada perkara maksiat.

Setiap orang juga perlu menasihati ahli keluarga mereka dengan menunjukkan jalan yang benar dan menyuruh mereka melakukan perkara yang ma’ruf serta mencegah diri daripada melakukan perkara munkar.

Berdasarkan penjelasan tersebut, secara asalnya di dalam syara’ setiap insan itu tidak akan menanggung dosa orang lain hanya dosa mereka sendiri.

Firman Allah SWT yang bermaksud: “Dan tiadalah (kejahatan) yang diusahakan oleh setiap orang itu melainkan orang itu sahaja yang akan menanggung dosanya.” (al-An’am:164).

Lagi satu firman Allah SWT yang bermaksud: “Dan (ketahuilah) bahawa seorang pemikul itu tidak akan memikul dosa perbuatan orang lain dan jika berat tanggungannya (dengan dosa), lalu memanggil (orang lain) untuk menolong agar dipikul sama bebanan tersebut, maka tidak akan dapat dipikul sedikitpun daripadanya walaupun orang yang meminta pertolongannya itu daripada kaum kerabatnya sendiri.” (Fatir:18).

Mengikut Imam al-Hafiz Ibn Kathir, kedua-dua ayat tersebut jelas mengatakan bahawa setiap insan yang sempurna akal fikirannya dan telah baligh (mukallaf), dosanya itu akan ditanggung oleh dirinya sendiri tidak kira apa statusnya sama ada dia seorang suami, isteri, ayah, ibu, anak atau selain daripadanya.

Kesimpulan: Seorang yang mukallaf adalah orang dipertanggungjawabkan dengan kewajipan dan perintah untuk menjalankan hukum tuntutan agama Islam serta menjauhi larangan-Nya.

Namun begitu, seorang suami atau seorang penjaga akan berdosa sekiranya dia tidak menasihati isteri atau wanita dibawah jagaannya dalam perkara yang ma’ruf dan tidak menghalangnya daripada melakukan perkara yang munkar

amalan yang wajib,sunnat,harus terbawa di akhirat kelak juga segala tuntutan yang haq(Allah Azzawajalla)lainnya dipertuntutkan akan amal baik wajib dilaksanakan ke atas bahu-bahu insani pilihannya kepada insan terpilih untuk selayak dan sewajibnya mendapat akan ketolongan dari Rabbnya kepada manusia yang selayaknya tetapi bukan sahaja tidak mahu memberikan haqnya kepada yang memerlukan tanpa memikirkan bahawa segala harta,kebendaan,harta,wang,barang kemas dan segala ciptaannya didunia ini hanyalah semata sebuah pinjamanya di atas ujiannya kepada yang empunya sama ada dengan niat tidak mahu berbuat kebaikannya atau sebaliknya juga golongan manusia yang merasa sangsi serta takutnya hati di dirinya,jika segala harta kekayaannya juga kesenagannya dikogsi kepada yang berhaq menerima di atas tuntutan Rabbnya lalu tidak mengendahkanya malah dengan sombong angkuh serta kejamnya mencaci hinakan manusia yang di berikan harapan dari bantuan diatas ketologannya tidak di kotakan akan janjinya kerana segala kehendak dirinya diatas balasan setimpal dari pemberiannya yang mahu terlaksanakan beserta syarat yang amat berat dan tidak manpu terlaksanakan di atas bahunya disebabkan faktor tertentu maka hajatnya tidak mahu diteruskan dan segala teguran agar dia menyedari akan haq manusia yang dituntut kepadanya di balas dengan kejam beserta akan makiannya juga dengan tiba-tiba akan merasa tidak kecukupannya bila kesenagan itu mahu dikogsikan kepada yang berhaq wajib menerima atas tuntutan Rabbnya tanpa diduga dan dirancang manusia kepada manusia di pertemukan dalam keadaan begini adalah ujiannya diri kepada manusia yang terpilih(menuntut haq)kepada manusia pilihan(memberi akan haq)kepada manusia terpilih tetapi tidak diendahkan juga akan ternilai Rabbnya malah menggangap kesenagan dan kemewahannya itu diberikan semata untuknya mendapat kepuasannya diri sendiri tanpa memikirkan didalam rezeki kita pasti ada rezeki untuk insani lainnya yang memerlukan,"

SEBAB ALLAH LARANG BERBUAT ZALIM;
ZALIM lawannya ialah KEBAIKAN

Adalah kerana kamu akan sukar mendapatkan TAQWA. Apabila taqwa itu tidak dapat kamu miliki maka sukarlah untuk kamu didekati oleh TAUFIQ apabila kamu tidak dihampiri TAUFIQ maka tiadalah kamu mendapat HIDAYAH, kalaupun kamu menemui hidayah bahkan kamu akan berpaling kerana kamu tidak akan dapat mengerti untuk mendapat faham.

===

(An Nahl , 16 : 90 )

 ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَـٰنِ وَإِيتَآىِٕ ذِى ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنڪَرِ وَٱلۡبَغۡىِ‌ۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّڪُمۡ تَذَكَّرُونَ (٩٠)

Sesungguhnya Allah menyuruh [kamu] berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. 

===

(AL QASSAS , 28 :77)

وَٱبۡتَغِ فِيمَآ ءَاتَٮٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلۡأَخِرَةَ‌ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنۡيَا‌ۖ وَأَحۡسِن ڪَمَآ أَحۡسَنَ ٱللَّهُ إِلَيۡكَ‌ۖ وَلَا تَبۡغِ ٱلۡفَسَادَ فِى ٱلۡأَرۡضِ‌ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُفۡسِدِينَ (٧٧)

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu [kebahagiaan] negeri akhirat, dan janganlah kamu m
Amal dan Usaha Hanya Untuk Dunia Sahaja (Tidak Ambil Kira Agama) Maka Balasan Azab Neraka Di akhirat.

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ

(سورة هود, آية ١٥)

Sesiapa yang keadaan usahanya semata-mata berkehendakkan kehidupan dunia dan perhiasannya (dengan tidak disaksikan sama oleh Al-Quran tentang sah batalnya), maka Kami akan sempurnakan hasil usaha mereka di dunia, dan mereka tidak dikurangkan sedikitpun padanya.

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

(سورة هود, آية ١٦)

Merekalah orang-orang yang tidak ada baginya pada hari akhirat kelak selain daripada azab neraka, dan pada hari itu gugurlah apa yang mereka lakukan di dunia, dan batallah apa yang mereka telah kerjakan.

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ 

allażīna yu`minụna bil-gaibi wa yuqīmụnaṣ-ṣalāta wa mimmā razaqnāhum yunfiqụn  

3.  (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Mereka itu adalah orang-orang yang membenarkan perkara-perkara yang gaib yang tidak dapat ditangkap oleh panca indra dan akal mereka Semata,  karena hal itu tidak dapat diketahui kecuali dengan wahyu dari Allah kepada rasul-Nya. seperti iman kepada malaikat,surge,neraka dan yang lainnya dari apa-apa yang diberitakan oleh Allah atau diberitakan oleh Rosul-Nya sholallohu’alaihi wasallam. (Iman adalah satu kalimat yang mengandung arti iqrar kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rosulul-Nya, hari akhir dan qadar yang baik dan yang buruk. dan yang membuktikan benarnya ikrar tersebut adalah dengan ucapan dan amal dengan hati, lisan dan anggota tubuh) Dan mereka denga bukti kebenaran iman mereka terhadap yang gaib adalah dengan menjaga pelaksanaan salat pada waktu-waktunya  dengan pelaksanaan yang shahih sesuai dengan yang Allah syariatkan kepada nabi-Nya Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. dan dari sebagian harta yang Kami anugerahkan kepada mereka, mereka mengeluarkan zakat yang wajib maupun yang sunnah dari harta mereka.

Allah Azzawajalla yang haq(tuntutan daripada pencipta)kepada ummat manusia ciptaannya).

1-Menuntut ilmu Allah Azzawajalla yang haq(tuntutan daripada pencipta)kepada ummat manusia ciptaannya).amal wajib.

1-Menuntut ilmu serta mencari galikan pahamannya yang benar di dalam akan sesuatu perintah dan larangannya beserta hukum hakamnya di sebalik yang tersurat itu ilmunya dan yang tersirat itu ertinya adalah zhatnya qalam(sebuah alquran)inti tuntutan yang di berkehendakan.

Kesimpulan.
Segala perintah dan larangannya yang hendaklah di patuhi di dalam hukum dan hakamnya yang perlu di ketahui dan di ertikan ujud asalnya amalan wajib itu terbawakan adakah dari unsur kejadiannya juga kehendak Rabbnya perbuatannya dari nabi Muhammad itu sendiri juga dari malaikat yang di iktirafkan untuk kita imankan.

Maka belum benar lagi syahadat diri yang benar islamnya jika solat itu sendiri di tegakan sebelum syariatnya dapat diluruskan,di dalam solat yang patut kita mengimanikan Rassulnya dalam rukun iman percaya kepada yang ghaib juga pecaya kepada Nabi,Rassul dan malaikatnya terlebih dahulu di atas penyaksian Rabbnya  adalah yang benar tegak tiang agamanya.

Bagaimana mahu beriman kepada Rassul dan Malaikat sedangkan kita tidak pernah terbukakan akan hijabnya di mata indahnya jika tidak dengan beriman sepenuhnya kepada setiap perukunnya hendaklah benar untuk di fahami dan di ertikan dalam diri.

Jika ini sahaja tidak lagi kita faham untuk kita mengetahui akan maksudnya dalam keertiannya sebenar bagaimana tiang agama(solat)itu tidak roboh seperti rumah bertiang tiada pakunya sebagai pasaknya untuk berdiri kukuh.

Di dalam solat 5 waktu itu sendiri ada kisah terselit mukjizatnya di sebaliknya sebagai bukti kekuasaan Rabbnya,Nabi yang ke 5 di utuskan Rabbnya memutuskan wahyunya terakhir sebagai pelengkap Nabi dan pada waktu itu solat lima waktu  sahaja dapat dikurangkan dari banyaknya waktu diberikan dan Nabi Muhammad pelengkap Nabi yang sebelumnya adalah nabi yang ke 5 terakhir sebagai ikutan ummatnya.

Di dalam solat itu sendiri subuh,zuhur,asar,maghrib dan isyak perlu kita ketahui akan usulnya kejadian dari bawaan Rassul dan Malaikatnya,secara tidak langsung kita dapat berilmu dan beramal yang benar benar beriman kepada yang ghaibnya sekaligus adalah yang di redhainya.

Kerana itu luruskan syariatnya di dalam rukun iman barulah benar beriman kepada islam yang benar syahadatnya.

Rukun Syahadah ada 4, iaitu:
1. Menetapkan zat Allah
2. Mengakui zat dan sifat Allah adalah paling sempurna
3. Menetapkan perbuatan Allah sebagai perbuatan Dia sahaja dan tidak sama dengan perbuatan makhluk
4. Menetapkan dan meyakini bahawa agama yang dibawa Rasulullah SAW sahaja yang benar

SYARAT SYAHADAH
1. Menyebut atau mengucapkan kalimah Syahadah  (diucapkan dengan lidah)
2. Meyakini dalam hati maksud syahadah iaitu meyakini hak-hak Allah dan Rasul
3. Jangan ada di dalamnya syak, zann dan waham (50 – 50 percaya, 70 – percaya dan 30 tidak atau 70 – tidak percaya dan 30 percaya)
4. Beramal dengan apa yang diyakini, dan menolak segala sesuatu yang merosakkan syahadah

Lafaz yang berasal dari satu hadis dimana nabi S.A.W menyatakan bahawa umatnya akan berpecah kepada 73 kumpulan, semua masuk neraka kecuali satu. Para sahabat bertanya "siapakah mereka?" Jawab baginda "Mereka yang mengikut aku dan sahabatku" dari hadis inilah keluarnya perkataan ASWJ. Sunnah merujuk kepada Nabi S.A.W
manakala Jemaah merujuk Para Sahabat yang ramai. Jesteru sesiapa yang mengikut nabi dan sahabat akan selamat juga yang mengikut ulamak yang bersifat 

sebagai pewaris nabi dengan bawaan amalnya 'Amar maaqruf Nahi Mungkar,"sebagai Dakwah fillahnya terhadap insani lainnya(Mengajak berbuat akan kebaikannya dan Melarang perbuatan Mugkarnya)di atas pahaman mencari dan mengupas makna dan ertinya dalam sesuatu ilmu ilmunya yang tidak sahih untuk dibasmikan yang bathil menegakan kebenarannya yang benar dalam iktikadnya menegakan kebenarannya di jalan yang benar diredhai di atas jalan yang lurus(Jihadku fisabilillah)

" Wahai orang-orang yang beriman! Tetapkanlah iman kamu kepada Allah dan RasulNya, dan kepada Kitab Al-Quran yang telah diturunkan kepada RasulNya (Muhammad s.a.w) dan juga kepada Kitab-kitab Suci yang telah diturunkan dahulu daripada itu dan sesiapa yang kufur ingkar kepada Allah dan Malaikat-malaikatNya, dan Kitab-kitabNya dan Rasul-rasulNya dan juga Hari Akhirat, maka sesungguhnya dia telah sesat dengan kesesatan yang amat jauh." (Surah An-Nisaa': 136)[2]”

Dari ayat diatas Rukun Iman disebutkan hanyalah lima perkara iaitu

Percaya kepada AllahPercaya kepada Nabi-Nabi dan Rasul-RasulPercaya kepada Malaikat-MalaikatPercaya kepada Kitab-KitabPercaya kepada Hari Akhirat

Tidak disebut rukun iman ke-6 iaitu

Percaya kepada Qada' dan Qadar

Kewajipan beriman kepada Qada' dan Qadar sememangnya tidak diterangkan di dalam ayat 136 surah an-Nisaa'. Namun begitu, Rukun Iman ke-6 yang digariskan oleh Rasulullah tetap mempunyai asas di dalam al-Quran berdasarkan kepada ayat-ayatnya yang lain iaitu:-

Iman.

Hadist(iman)

Setiap ummat ciptaannya tidak mengira kaum dan derajatnya dilahirkan beriman tidak mengira akan bangsa dan adat istiadatnya,iman itu terletak di peribaan hati(qolbu)yang baik di diri kelaku yang bersifat sentiasa menjaga akan keperibadian di keberadaan zahir(kata dan kelaku yang baik menonjol tanpa di perlakunkan wataknya)

Keimanan seseorang sering rasa tercabar dan bergelojak hawa dan nafsunya(sebut senarai nafsu-cari) oleh arasa dalam sebuah akan sesuatu ujiannya adalah pemberian dari yang Esa(Allah Azzawajjalla) dalam meniti arus kehidupan di dunia dengan sebuah akan kesabarannya dalam ujian ,kesakitannya,kepedihannya.

Setiap ujian yang diberi melalui hubungan kemanusiannya(cinta,keluarga,teman-teman,pekerjaan)bencana alamnya,sakit di peribaan dirinya,pencarian(rezeki dan ilmunya)

Kesabaran yang tinggi adalah diri yang pantang tercabar setia berdiri tanpa mahu lari dari sebuah kenyataannya takdir walaupun berbaja doa dan pengharapannya tetaplah teguh di dalam naugan dalam kebersamaan yang sama maka dalam setiap ujiannya adala takdir yang tidak dapat di ubahkan lagi hingga diri yang setia diuji tanpa keluh kesahnya.

Ujian tersebut di iringi sakit,pedih,tangis,yang silih berganti yang tiada penghujungnya,untuk ujian kesabaran ini mengajar akan diri setiap insaninya menjadi sebaik manusia ciptaan insaninya yang benar di dalam sebuah kesabarannya.

Tanpa sakit hati,meratapi(tidak redha dan seperti menyalahkan takdirnya)dan berkeluh kesahnya bercerita ulang-ulang kesana kemarinya,tanpa dendam kesumat tidak memaafkan walaupun ujian dari manusia itu sangatlah kejam menghukum tanpa sebab alasan kukuhnya tetapkan memaafkan insani tersebut.

Ujian kesabaran di setiap langkah perjalanan itu mematangkan diri setiap insaninya yang benar beriman adalah seperti diri di dalam sebuah perjuangannya yang hakiki di peribaan(qolbu,minda)diri yang berdiri tegak menanti akan ujian seterusnya dan teguh memperhambakan diri yang sedang berjuang merempuhi dengan sebuah akan keredhaannya hati dan diri di setiap langkahnya setia di uji tanpa meminta akan mati.(berundur di atas setiap kekalahannya diri yang sedang memperjuangkan akan sesuatu tuntutan Rabbnya)

Ujian kesabaran diri yang beriman mengajarkan diri yang mengenal sebenar akan erti sebuah kemaknaannya dalam mengimani diri di peribaan hatinya dengan sebuah akan kesedarannya diri yang sebenar akan memberikan pahamannya dalam merungkai makna dan erti yang tersurat tersiratnya di dalam sesebuah akan ujiannya tersimpan makna yang mendalam dalam marhabahnya sebuah erti kenikmatan sebenar dalam amalnya dalam diri akan mengenal sebuah kesabarannya kesyukurannya,keikhlasannya juga akan keredhaannya.


  • Amal sabar,syukur,ikhlas dan redha yang di bawa sebagai bekal ke akhirat adalah penting bagi setiap insaninya selain dari ujian amalan sunnat dan wajib lainya,setiap ujian di bahu ummat ciptannya adalah mampu terlaksanakan kerana Rabbnya sahaja yang akan mengenal akan kemampuan ciptaan manusia di setiap ujian yang terpikul adalah pemberiannya yang tidak kita pinta mengundang resah dan nestapanya tetapkan terpikul dek bahu-bahu ummat pilihannya.


“" Tidak ada sesuatu kesusahan (atau bala bencana) yang ditimpakan di bumi dan tidak juga yang menimpa diri kamu, melainkan telah sedia ada di dalam Kitab (pengetahuan Kami) sebelum Kami menjadikannya; sesungguhnya mengadakan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kamu diberitahu tentang itu) supaya kamu tidak bersedih hati akan apa yang telah luput daripada kamu dan tidak pula bergembira (secara sombong dan bangga) dengan apa yang diberikan kepada kamu dan (ingatlah), Allah tidak suka kepada tiap-tiap orang yang sombong takbur, lagi membanggakan diri. (Surah Al-Hadid: 22-23)[3]

Orang Islam percaya bahawa Allah telah menurunkan kitab-kitab kepada para nabi dan rasul untuk membimbing manusia ke jalan yang benar. Ia diakhiri dengan kitab Al-Quran.

Kitab-kitab yang wajib diimani adalah:

Taurat: diturunkan kepada Nabi MusaZabur: diturunkan kepada Nabi DaudInjil: diturunkan kepada Nabi IsaAl-Quran: diturunkan kepada Nabi Muhammad


Orang Islam percaya bahawa pada masa kini, kitab-kitab selain Al-Quran telah diubahsuai mengikut kehendak pihak-pihak tertentu; maka ia bukan lagi merupakan naskah-naskah yang tulen. Al-Quran menyempurnakan segala kitab-kitab yang terdahulu.

Mengucap dua kalimah syahadat.
Dalam pengertiannya rukun iman.

Berimanlah yang sesungguhnya kepada Allah Azzawajalla dengan ajarannya yang benar melalui bukti dalil dari kitab Rasullallah dan sahabatnya dan hadist sohihnya dalam sebuah kitab qalam alqurannya,"

'Kalimah Ashadualla ilahailllallah waashaduanna muhammadar rasullallah.

Aku bersaksi tiada tuhan yang disembah melainkan Allah dan aku bersaksi Nabi Muhammad pensuruh Allah.

Mendalami akan maksud dan Erti dengan sepenuhnya dengan rasa hati di jiwa bukanlah sekadar bahan bacaan sambil lewanya tanpa tau akan maksud yang tersurat dan tersiratnya,"

Kalimah syahadatnya bukan untuk di Ertikan sahaja tanpa ajarkan diri untuk beramal yang benar dengan Syahadatnya kepada Nabi Muhammad SAW yang harus kita ikuti akan setiap ajarannya dan jika mulut sahaja yang membicarakan qalamnya tanpa cuba ambil tahu tentang alkisah siapa Nabi Muhammad ikutan kita yang selalu dilafazkan?siapa sahabat juga lainnya dalam suka dan dukanya mempejuangkan islam membawa ummatnya ke jalan yang benar?bagaimanakah kita dikatakan beriman sepenuhnya pengikut ajaran Nabi Muhammad sedangkan segalanya tentang Nabi Saw Rassulnya tersebut tidak kita endahkan sedangkan dia itu kekasih Allah Azzawajalla yang wajib kita ikutinya.

'Beriman kepada sifatullah(tahu)hanya kepada Allah Azzawajalla(sifat 20) yang benar(ujud)yang(Esa)tunggal ,telah disalah ertikan oleh segolongan insaninya yang tergolong dalam kesesatannya beragama serta mahu menjadi seperti diri beraggapan menyamai sifat sang penciptanya tiada yang membezakan terserlah akan kesesatannya mendalami ilmu sifat 20 didalam sesuatu kelompoknya tersasar pahamannya dalam memaknai untuk di ertikannya.

Walhal sifat itu telah terpasangkan di sanubari Nabi Muhammad itu sendiri bersifat mulia yang harus di ikuti sebagai akidah dalam kehidupan yang sebenar (contohi sifat Rasullallah yang di ajarkan kepada ummatnya untuk diri kita sendiri berusaha pula untuk memasang akan sifat baik baginda) tawakallah sesungguhnya beserta Doa dan usaha yang pertama,di dalam mencari akidah ( islam yang benar) serta syariat(peradaban islam yang benar)antara yang (haqq) Allah Azzawajalla kepada ummat ciptaannya kepada ummat yang lainnya di dalam sesuatu ukhuwah(perhubungan sesama manusia sejagatnya tanpa memilih bangsa,darjat,dan sbgainya)

Ajaran benar dalam ajaran islam yang  benar dalam amal soleh dan solehahnya mengikut cara bagaimana syahadatnya itu kita imankan cara bagaimana mencorakannya diri yang benar beriman,"

Fardhu ainnya(syariat)dalam peradabannya tatacara atau tertibnya dalam fiqihnya diri setiap insaninya yang benar bersifat kelaku soleh dan solehah yang benar juga dalam amal wajib,sunat,harus dalam berilmu dan beramal ibadahnya hendaklah diketahui dan terlaksanakan.

'Setelah dapat memahami dari amalan fardhu ainnya itu sendiri maka penghijrahan dalam diri setiap insaninya beralih kepada diri yang fardhu kifayahnya melaksanakan wajib terlaksanakan bagi yang berilmu benar mempunyai ilmunya dalam hubungan masyarakat dari manusia kepada manusia yang berhaq menginfakan segala ilmunya bermanfaat kepada yang lainya(akidah dalam hukum hakam,niat,kata,zahir kelaku dan apa sahaja akan sesuatu perbuatan baik dan buruknya diatas perintah dan larangannya kepada penciptaan insani lainnya dalam tuntutannya yang tidak dapat tertolakannya lagi yang(haqq)adalah tanggungjawab dari insani kepada lainnya dalam kelompok  masyarakat atau sesuatu kumpulan bersaksikan(illallah)yang 1(esa)

Tanpa kita mempelajari dan mengetahui sedalamnya makna dan erti sebuah kehidupannya tanpa  ajaran(akidah islam dan syariat yang betul)yang di pertuntutkan oleh Rabbnya di dalam perintahnya terhadap yang di pertuntutkan kepada ummatnya dengan sewenangnya melaksanakan larangannya maka segala amalan dalam kehidupan ini tidak dapat  terlaksanakan dengan benar sebagai seorang islam yang sebenarnya,"terjauh diri dan hidup dari landasan kehidupan yang diredhai oleh Allah Azzawajalla yang terdekatkan dari dalam kesesatanya diri yang mengimanikan makna dan erti dalam salah pahamannya,"


 وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ 

wallażīna yu`minụna bimā unzila ilaika wa mā unzila ming qablik, wa bil-ākhirati hum yụqinụn 

 4.  dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Dan orang-orang  yang membenarkan semua yang diturunkan kepadamu wahai Rasul dari  Alquran dan segala yang diturunkan kepadamu berupa Al Hikmah yaitu as-sunnah. Dan kepada semua yang yang diturunkan kepada para rasul sebelum mu  berupa kitab-kitab seperti taurot, Injil dan kitab-kitab lainnya. dan mereka juga membenarkan adanya Negeri kehidupan setelah kematian dan segala yang akan terjadi di sana berupa perhitungan dan pembalasan amal perbuatannya. pembenaran ini dengan hati mereka yang kemudian diperlihatkan  oleh lisan dan anggota tubuh mereka. Secara khusus hari akhir disebutkan disini karena iman kepadanya termasuk diantara dorongan paling penting untuk berbuat ketaatan, menjauhi perkara-perkara yang diharamkan dan melakukan introspeksi diri.


'ILMU TAHU DAN PAHAM,"
BAB SATU(1)

ILMU TAHU DAN PAHAM-Dalam penyatuan dua makna dan ertinya yang membezakan.

TAHU SAHAJA TETAPI TIDAK PAHAM-mengetahui hanya di dasaran huruf qalamnya seolah membaca" (tajuknya)" di papan tulis sahaja tanpa tahu isinya yang di maknai dan ertikan maksudnya yang sebenar

TAHU DAN PAHAM-Mengerti akan maksud dalam erti dan makna dasaran dan inti(zhat)qalamnya yang sebenar.

ILMU TAHU-Tahu belum mendapat paham,sebelum makna ertinya tidak terugkai sebuah pahamnya maka tidak akan membukakan maksud sebenar ilmu tahu dalam kebenarannya untuk mendapat paham(ilmu tahu) di sebalik kemaknaan dan keertiannya tidak akan dapat terhadam dan terungkai maksud sebenar di sebalik yang tersurat serta tersirat sebuah qalam(ilmunya).

ILMU PAHAM-Paham untuk mencari tahu segala akan maksud dalam makna dan erti di dalam rungkaian kemaknaanya di sebalik keertiannya yang sebenar yang di dalam ilmu yang di berkehendakan terbuka hjjab ilmunya di sebalik tulisan atau qalamnya petunjuk(alquran)ke atas ilmu qalamnya dengan mudah dan tepat pahamannya untuk mendapat tahu.

Kategori manusia;-Bagi kelompok begini perlulah di sedari oleh diri sendiri di manakah letaknya pengetahuan dan pemahaman kalian yang hendaklah memulai dari sekarangnya untuk usaha galikan pahaman ilmunya di sebalik amalan kalian buat tidak merugikan hidup sia-sia tiada yang paham untuk mendapat tahu dan tiada yang( tahu untuk mendapat paham)ini yang diredhainya.

Buang egois rendahkan segala martabat nafsu di sebalik lapisan-lapisanya agar dengan rendah hati penuh berikhlas untuk mencari kebenaran berilmu yang benar serta muhasabahkan segala amalan yang terperolehi itu di teliti sepenuh hati adakah betul ilmunya itu adalah amalan yang soleh dan solehah agar tidak merugikan.

JANGAN DI TANGGUH AGAR KESEMPATANYA MEMBUKA PELUANG DAN LEMBARAN BARU BAGI KITA SEMUA BERILMU BERAMAL YANG DI REDHAI DUNIA AKHIRAT.

1)Tahu tapi tak paham(tak tahu)
3)Paham tapi tak tahu(Buat tahu)
4)Tak tahu tapi paham(Buat paham)
5)paham tapi tak tahu(Tak paham)
6)Tak paham tapi tahu(Buat tahu)

(Tak tahu tapi buat tahu)
(Buat tahu dan buat paham)
(Buat paham tapi tak paham)
(Tak paham dan buat tahu)

(Buat-buat pandai)
(Buat-buat tahu dan paham)
(Buat-buat paham)
(Buat-buat paham dan tahu)

(Memang tak pandai)
(Memang tak tahu menahu)
(Memang tak tahu)
(Tak ambil tahu langsung)

KERANA DIRI YANG MASIH DUDUK DI DALAM KEJAHILAN,KEKUFURAN DAN KEFASIKAN MAKA HIDUP DI DALAM KEGELAPANYA SEGALA PERINTAH DAN LARANGANYA TIDAK DI PATUHI KERANA DIRI YANG MENYANGKAKAN ILMU FITNAH AKHIR ZAMAN INI ADALAH DARI TULISAN PENA ULAMAKNYA YANG SALAH MAKA SETIAP KEBENARAN YANG TERKONGSIKAN TIDAK DI PANDANG MULIA HANYALAH SENYUM SINIS DAN HINANYA DI TERIMA MANUSIA UMMAT YANG KUFUR DAN LAKHNATNYA MENGAGAP SUCI TAPI PENUH DEBU DAN KARATNYA.SEMOGA MEMBUKAKAN MATAHATI KALIAN DI SETIAP KEBENARAN YANG HADIR DARI ALLAH AZZAWAJALLA


6 KATEGORI MANUSIA BERIMAN YANG MUNAFIK MENGAKU BERIMAN TAPI MENIPU RABBNYA HIDUP TIDAK BERSUNGGUH UNTUK MENCARI GALI ILMUNYA YANG TIDAK PERNAH HABIS KERING SEPERTI BUIH LAUTANYA TIDAK LUPUT DIK ZAMAN HINGGA TERJAGA ILMU PEWARIS NABIYULLAH YANG UNGGUL DAN TERAGUNG.

KESIMPULAN DALAM MANFAAT ILMU TAHU DAN PAHAM;-BAB(DUA)2.

1/Belajar ilmu paham.
2/Belajar ilmu tahu.

Jika ilmu paham dan tahunya telah dapat terhadamkan di birai (mata hati ) yang memaknainya dan mata (akal fikirnya) yang di mengertikan maka akan mudah untuk mendapat'YAKIN,"

ILMU YAKIN-Tiada berdolak daliknya lagi hati tersebut untuk mendapat tahu dan paham dengan iktekad sebuah keyakinannya sebenar maksud dalam akan sesuatu kebenarannya ilmunya tanpa was-wasnya lagi dalam meluruskan ilmunya dalam keniatan tujuan maksud dan kata dalam  sebuah keyakinannya hati di diri dalam penyaksian kehidupannya di atas tuntutan Rabbnya dalam qalam qudsi yang berkehendakan dalam hadist Sahih Rasullallah ikutan diri yang benar Islamnya diri.

Wallahualam.

'ILMU YANG BENAR AKAN MEMBERKATIKAN AKAN ILMU DUNIA DAN AKHIRATNYA,"

NAK ILMU KENA DENGAN ILMUNYA,"
NAK ILMU DUNIA KENA ADA ILMU AKHIRATNYA,"
NAK ILMU AKHIRATNYA KENA ADA ILMU DUNIANYA"
ILMU DUNIA DAN AKHIRATNYA YANG AKAN MEMBAWA KEBERKATANNYA DALAM KEHIDUPAN ALAM DUNIA DAN ALAM AKHIRATNYA,"DIREDHAI.


 أُولَٰئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ 

ulā`ika ‘alā hudam mir rabbihim wa ulā`ika humul-mufliḥụn  

5.  Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung. Orang-orang yang memiliki sifat-sifat ini berada diatas cahaya dari Robb mereka dan Taufik dari Tuhan pencipta dan pemberi hidayah bagi mereka dan mereka itulah orang-orang yang beruntung yang berhasil menggapai apa yang mereka inginkan dan selamat dari keburukan yang mereka melarikan diri darinya. 

BAB 1.
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ

MENTAATI ALLAH SWT AZZA WA JALLA TABARAQA WA'TA'ALA DAN RASULLALLAH SAW ADALAH TUGAS YANG PALING DITUNTUT DALAM ISLAM.

Allah SWT berfirman:

اِنَّ الْمُسْلِمِيْنَ وَا لْمُسْلِمٰتِ وَا لْمُؤْمِنِيْنَ وَا لْمُؤْمِنٰتِ وَا لْقٰنِتِيْنَ وَا لْقٰنِتٰتِ وَا لصّٰدِقِيْنَ وَا لصّٰدِقٰتِ وَا لصّٰبِرِيْنَ وَا لصّٰبِرٰتِ وَا لْخٰشِعِيْنَ وَا لْخٰشِعٰتِ وَا لْمُتَصَدِّقِيْنَ وَ الْمُتَصَدِّقٰتِ وَا لصَّآئِمِيْنَ وَا لصّٰٓئِمٰتِ وَا لْحٰفِظِيْنَ فُرُوْجَهُمْ وَا لْحٰـفِظٰتِ وَا لذّٰكِرِيْنَ اللّٰهَ كَثِيْرًا وَّ الذّٰكِرٰتِ ۙ اَعَدَّ اللّٰهُ لَهُمْ مَّغْفِرَةً وَّاَجْرًا عَظِيْمًا
"Sesungguhnya orang-orang lelaki yang Islam serta orang-orang perempuan yang Islam, dan orang-orang lelaki yang beriman serta orang-orang perempuan yang beriman, dan orang-orang lelaki yang taat serta orang-orang perempuan yang taat, dan orang-orang lelaki yang benar serta orang-orang perempuan yang benar, dan orang-orang lelaki yang sabar serta orang-orang perempuan yang sabar, dan orang-orang lelaki yang merendah diri (kepada Allah) serta orang-orang perempuan yang merendah diri (kepada Allah), dan orang-orang lelaki yang bersedekah serta orang-orang perempuan yang bersedekah, dan orang-orang lelaki yang berpuasa serta orang-orang perempuan yang berpuasa, dan orang-orang lelaki yang memelihara kehormatannya serta orang-orang perempuan yang memelihara kehormatannya, dan orang-orang lelaki yang menyebut nama Allah banyak-banyak serta orang-orang perempuan yang menyebut nama Allah banyak-banyak, Allah telah menyediakan bagi mereka semuanya keampunan dan pahala yang besar."(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 35)

Dari Abu Muhammad Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiallahu ‘anhuma beliau berkata: Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa” (hadits hasan sahih yang kami riwayatkan dari Kitabul Hujjah dengan sanad yang sahih)

Penjelasan:
Hadits ini adalah hadits yang terkenal dan hadits ini terdapat dalam Kitab At-Tauhid. Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa”. Hadits ini berderajat hasan sebagaimana yang dihasankan Imam Nawawi di sini. Bahkan beliau berkata ini adalah hadits yang hasan shahih.

Hadits ini dikatakan sebagai hadits hasan karena hadits ini sesuai dengan makna ayat Al Quran yaitu:

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS An Nisaa: 65)

Menganggap sebuah hadits memiliki derajat hasan karena memiliki makna yang sesuai dengan ayat Al Quran adalah mazhab yang dianut oleh banyak ulama terdahulu seperti Ibnu Jarir Ath Thabari dan sebagian ulama dan imam ahli hadits.

Bermakna bahwa seseorang wajib mendahulukan kehendak Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallam dibandingkan dengan kehendaknya serta mendahulukan syariat Rasulullah salallahu ‘alaihi sallam dari pada hawa nafsunya. Jika terdapat pertentangan antara harapannya dengan sunnah, maka dia akan mendahulukan sunnah. Hal ini telah dijelaskan pada banyak ayat Al Quran dan hadits, seperti firman Allah jalla wa ‘ala:

Katakanlah: “Jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” (QS At Taubah: 24)

Wajib untuk lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya dibandingkan selain keduanya. Jika seseorang sudah berbuat demikian, maka hawa nafsunya sudah mengikuti apa yang dibawa oleh Al Mustafa salallahu ‘alaihi wa sallam.

Maka makna perkataan Rasulullah salalahu ‘alaihi wa sallam: “Tidak beriman salah seorang di antara kalian” adalah meniadakan kesempurnaan keimanan yang wajib di dahului,"


إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ 

Innallażīna kafarụ sawā`un ‘alaihim a anżartahum am lam tunżir-hum lā yu`minụn  

6.  Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu karena kesombongan dan kesewenangan, keimanan tidak akan terjadi dari mereka baik engkau -wahai Rasul- telah menakuti dan memperingatkan mereka dari siksa Allah, ataupun engkau tidak melakukan itu, karena  mereka terus menerus  berada di atas kebatilan mereka.

Syariat adab berilmu.

Bismillah.
Selawat ke atas Nabi Muhammad,"
Allahumma solliala saidina muhammad,waalaalihi saidina muhammad.

'Hiduplah dalam keredhaannya illahi yang memberkatikan setiap akan amal dan ibadahnya di dunia hingga ke Akhiratnya.

'Kehidupan yang berlandaskan senaskah alquran nurkarim adalah jalan yang benar dan di redhainya,di sebalik qalamnya sebuah alquran terselit akan rahsia di sebalik rahsianya yang terungkai makna dan ertinya di sebalik yang tersurat dan tersirat berada di dalam al kisahnya kehidupan di dalam sebuah perjalanan hidup di 'DUNIA,"yang fana ini.

'Hidup dalam syariat islam yang sebenar di pertuntutkan oleh Rabbnya,sebagaimana yang di ajarkan Nabi Muhammad Saw dari peradabannya diri insani di dalam peribaannya diri yang bersifat kelaku diri,cara bercakap,cara makan,cara berjalan,cara berpakaian dan sebagainya termaktub dalam marhabah ,"

'Ummatnya yang di pertuntutkan oleh Rabbnya menjadi seorang yang benar beriman,adalah yang terjaga diri di peribaan dirinya sendiri terlebih dahulu dan dengan niat baik menjadi contoh kepada yang lainnya untuk di ikuti serta tegur menegur dan saling berpesan adalah usaha diri yang berwibawa dan bersopan sebagai sebuah nasihat atau peringatannya kepada insani lainya yang masih duduk di dalam kesesatanya diri yang sengaja bersifat kufur atau sebaliknya.

'Kerana manusia itu bersifat egois tidak mahu ditegur dengan sebuah kata sahaja malah akan menolak kebenarannya apabila yang memberi nasihat yang tersirat kebenaran sebenar apalagi yang memberi atau kongsikan akan ilmunya adalah sebuah perintahnya itu adalah dari insan biasa yang bukan ustaz atau ustazahnya sedangkan mereka juga insan biasa yang kadang kala mempunyai pengetahuannya di dalam sesuatu bidangnya sahaja melalui buku rujukannya,tiada insan yang sempurna untuk terlalu di agungkan hingga kebenarannya tidak terpandang lagi.

Ilmu yang baik di beri kepada di setiap peribaannya dada-dada insaninya yang beriman dengan setiap keniatannya yang mahu berbuat kebaikan dan kebajikannya di pilih Rabbnya kepada yang mahu serta berkeinginan untuk mendalaminya akan terungkai makna dan katanya di sebalik qalamnya sebuah alquran.

'Maka dari teguran manusia kepada manusia lainnya sebagai saling ingat mengingati diantara satu dengan lainnya beserta doanya yang tulus dan kudus berlandaskan syariat islam yang benar adalah tertuntut Rabbnya ke atas bahu tiap insaninya,"

Kehidupan yang tidak selari dalam syariatnya adalah tidak meredhainya akan kebenarannya dalam beragama islam yang sebenarnya hingga ajaran islam itu sendiri tercemar oleh manusia itu sendiri hingga terpandang oleh bangsa lainya yang akan menimbulkan akan kefitnahannya diri sendiri yang menciptakanya sendiri tanpa di sedari.

Agar kita sedar tujuan apa hidup kita di DUNIA ini adakah hanya tunduk dan akur kepada perintah-perintah manusia kufur lainya atau di dalam nafsu mereka sendiri yang berkehendakan untuk diri yang terpesong akidahnya hingga maruah diri bangsa juga agama tercemar adalah tidak di redhainya.


 خَتَمَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰ أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ 

khatamallāhu ‘alā qulụbihim wa ‘alā sam’ihim, wa ‘alā abṣārihim gisyāwatuw wa lahum ‘ażābun ‘aẓīm  

7.  Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat. Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka dan menjadikan penutup pada pandangan mereka, disebabkan kekafiran dan penolakan keras mereka setelah jelas kebenaran bagi mereka, maka Allah tidak memberikan Taufik bagi mereka untuk mendapat Hidayah dan bagi mereka akan mendapatkan siksaan yang keras di neraka jahanam.


Mengaku beriman
Tetapi mendustai

Sebelum agama itu benar tertegakan dalam syahadatnya pertama luruskan setiap syariatnya  rukun iman dan islam dalam fardu ain dan kifayahnya.

Tidak melanggar hukum syariatnya dalam amalan wajib,sunnat(wajib dan tidak wajib)harus(wajib atau tidak)di atas perintahnya juga paham dan tahu hukum dosa dan pahala atas laranganya.

Iman yang sedikit tidak dapat menutupi kesalahannya,diri sendiri sewajarnya menginsafi dalam sebuah erti kesedaranya yang akan merubahkan keadaanya dari terpalit dosa besar selamanya di kemudian hari di akhirat kelak merugikan.

Dengan sebuah kesalahan terhadap manusia akan terjalin semula keharmoniannya di dalam sesebuah hubungannya diantara manusia kepada manusia lainnya dengan kata kemaafannya yang terhulur akan terhadir diri yang benar telah menginsafi akan kemungkaran yang telah disaksi oleh Rabbnya akan terampun segala dosanya.

Kesalahan terhadap manusia akan terungkit dan ternilai di depan Rabbnya andai tiada kemaafannya dan kesedarannya dari kedua belah pihak di akhirat kelak amat menyukarkan diri manusia tersebut di depan Rabbnya menjadi bukti penyaksiannya kehidupan diantara manusia kepada manusia itu sendiri adalah makhluk ciptaannya di dunia akan teradilkan di sana kelak tanpa terelakan lagi.

Redha manusia di antara manusia lainnya juga dalam sebuah marhabahnya sebuah hubungan dalam organisasi perkaumannya kekeluargaan juga persahabatannya adalah bertujuan untuk mengeratkan lagi tali persaudaraannya sesama ummat sejagatnya yang kita semua sentiasa terlepas pandang mengabaikan akan haq-haq yang di pertuntutkan Rabbnya di bahu setiap ummat ciptaanya tujuan apakah kita sesama manusia di temukan?adakah untuk menciptakan sebuah sengketa yang menyengketa merialisasikan impian-impian kufurnya terhadap manusia lainnya?persoalan sebegini biasanya tidak pernah terlintas di benak mata akal dan fikir kita semua antara penyebab utama kekufurannya diri tidak pernah disedari untuk dapat cuba kearah perubahannya diri dari yang bersikap negatif kepada positifnya.

Seringkali topik yang biasa ini di salah erti tafsirkan oleh segelintir kelompok manusia yang tidak punya hati dan perasaannya yang tidak terketuk langsung di tangkai jantungnya terpalit akan kehitamannya secara langsung tidak dapat untuk terpandang akan Rabbnya di dalam akan sesuatu tuntutanya di bahu manusia kepada manusia yang(haq) tidak di endahkan oleh mereka adalah titik permulaan yang tanpa di sedari juga di sebalik telah cuba menciptakan jurang pemisah diantara mereka di dalam hubungan ukhuwah kasih sayangnya sesama insaninya.

Punca permasalahan ini terjadi adalah di sebabkan beberapa faktor di dalam sesebuah organisasinya yang melibatkan kelompok kecil dan besarnya dalam sektor hubungan awam,kekeluargaan,persahabatan juga perkaumannya tercetus banyak salah fahamnya akan sesuatu kejadian dalam penceritaan yang tidak dapat terelakannya akan merosakan sesuatu hubungan dalam kebersamaanya tanpa di sedari akan menjerumuskan diri di dalam kemurkaan Rabbnya illahi.

Seringkali pepecahan itu terjadi di sebabkan punca yang kecil dari salah fahamnya sehingga tercetusnya sebuah perkelahian di antara dua pihak atau lebihnya di dalam sengketa yang berpanjangan yang menimbulkan dendam mendendami sesama sendiri tanpa ada satu pihak pun yang mahu beralah dan mengalah untuk menamatkan alkisah sesuatu tragedinya adalah yang akan tertuntut nilaikan di atas penyaksian Rabbnya ke atas kedua pihaknya di dunia hingga membawa ke akhiratanya tiada dapat terelakan lagi.

Sesetengah segerombolan manusia tersebut yang tidak pernah mahu untuk memikirkan tujuan apakah hidup di dunia ini di pertemukan kita besama insani lainnya?,apakah untuk menjalani kehidupan dalam persengketaanya untuk memuaskan hati dan diri masing-masing untuk diri sendiri yang berkehendak tanpa mahu beralah dan mengalah untuk memberhentikan sengketanya dari berpanjangan menginginkan sebuah kemenangannya di dunia sahaja di akhirat belum tentu kita di pihak yang benar andai sesamanya tidak cuba mahu memperbaiki hubungan sesama insani lainya.

Manusia itu sendirilah yang berbuat akan kerosakannya di muka bumi ini dengan sewenangnya membuat kemungkarannya diri di dalam kemurkaan( illallah) Rabbnya kepada insani itu sendiri tanpa siapa pun yang menyuruh atau memaksa adalah manusia yang kufur dan fasik kerana hidupnya yang tiada berlandaskan ajaran islam dalam syariatnya adab yang sebenar merusak qolbunya(hati)hingga terbentuk kehitaman dan kebusukkan terhadap pandanganya kepada manusia lainnya yang terlihat tidak sempurna di matanya sendiri berani menghukum dan menindasnya dengan hukuman dari ciptaanya sendiri dengan kebencian dan kesombongan diri yang tertanam sifat mugkarnya terpasang di sanubari akal dan fikirnya yang menutupi setiap kebenaranya juga ,sedangkan dirinya saat itu juga mereka itu sedang di perhatikan oleh Sang khaliqnya dan ternilai Rabbnya adalah diri yang masih atau telah duduk di dalam kejahatannya diri sendiri.


Sedikit keimanannya di dalam diri setiap insaninya tidak akan dapat untuk menyelamatkan diri yang benar beriman,jika terus memasang keegoannya diri di depan Rabbnya adalah yang mendustakan diri sendiri yang menipu diri sendiri jika masih lagi kesedarannya.

Manusia itu sendirilah yang berbuat akan kerosakannya di muka bumi ini dengan sewenangnya membuat kemungkarannya diri di dalam kemurkaan( illallah) Rabbnya kepada insani itu sendiri tanpa siapa pun yang menyuruh atau memaksa adalah manusia yang kufur dan fasik kerana hidupnya yang tiada berlandaskan ajaran islam dalam syariatnya adab yang sebenar merusak qolbunya(hati)hingga terbentuk kehitaman dan kebusukkan terhadap pandanganya kepada manusia lainnya yang terlihat tidak sempurna di matanya sendiri berani menghukum dan menindasnya dengan hukuman dari ciptaanya sendiri dengan kebencian dan kesombongan diri yang tertanam sifat mugkarnya terpasang di sanubari akal dan fikirnya yang menutupi setiap kebenaranya juga ,sedangkan dirinya saat itu juga mereka itu sedang di perhatikan oleh Sang khaliqnya dan ternilai Rabbnya adalah diri yang masih atau telah duduk di dalam kejahatannya diri sendiri.

Sedikit keimanannya di dalam diri setiap insaninya tidak akan dapat untuk menyelamatkan diri yang benar beriman,jika terus memasang keegoannya diri di depan Rabbnya adalah yang mendustakan diri sendiri yang menipu diri sendiri jika masih lagi kesedarannya tidak dia kenal dengan sedalamnya maka hilanglah tanda keimanannya diri yang benar islamnya.

Menjerumuskan dirinya ke arah kekafirannya diri beserta manusia yang lainnya juga ke dalam kefakiran diri dalam kebaikan di dunia dan akhiratnya menjadi ummat islam yang muflis tiada ketolongannya.


" Wahai orang-orang yang beriman! Tetapkanlah iman kamu kepada Allah dan RasulNya, dan kepada Kitab Al-Quran yang telah diturunkan kepada RasulNya (Muhammad s.a.w) dan juga kepada Kitab-kitab Suci yang telah diturunkan dahulu daripada itu dan sesiapa yang kufur ingkar kepada Allah dan Malaikat-malaikatNya, dan Kitab-kitabNya dan Rasul-rasulNya dan juga Hari Akhirat, maka sesungguhnya dia telah sesat dengan kesesatan yang amat jauh." (Surah An-Nisaa': 136)[2]”


وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ

 wa minan-nāsi may yaqụlu āmannā billāhi wa bil-yaumil-ākhiri wa mā hum bimu`minīn  

8.  Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian,” pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Di antara manusia ada sekelompok orang yang bimbang dan bingung antara menjadi bagian dari orang-orang yang beriman atau menjadi bagian dari orang-orang yang kufur. dan mereka itu adalah orang-orang munafik yang dengan lisan mereka mengatakan “kami membenarkan kepada Allah dan hari akhir” sedangkan secara batin mereka berdusta dan tidak beriman. 

Mengaku beriman tetapi mendustai:-

Melakukan kemaksiatanya diri di depan Rabbnya dengan melakukan akan kelufurannya dengan sengaja dan tidak sengaja tanpa disedari juga sebaliknya yang duduk dalam keniatan diri yang berniat juga tidak.

Difinasi:-

1)Duduk dalam kelalaian diri di depan Rabbnya,melakukan setiap aktivitinya harian tanpa sedar dan di sedarinya lupa dan alpa dengan sengaja kepada Rabbnya dari setiap tuntutan akan Rabbnya menjauhkan diri dari mengingati akannya.

2)Duduk di dalam kebersamaan manusia lainnya yang berbuat akan kelalaiannya diri mereka di depan Rabbnya tanpa di sedari juga tidak di sedari dengan sengaja berniat juga bersubahat dalam melaksanakan akan kemungkarannya diri sendiri di depan Rabbnya.

Ciri-cirinya:-

Melakukan perbuatan mungkar di depan Rabbnya dengan sengaja tanpa mahu menyedari dan menginsafi akan kekufurannya diri sendiri atas kesalahan yang terlaksanakan tersebut.

Melakukan kejahatannya diri sendiri kepada Rabbnya melanggar perintah dan larangannya dalam sesuatu tuntutan Rabbnya di bahu setiap insaninya dalam amal ibadahnya dengan bermalas dan sambil lewanya engkar dan mengabailan segala tanggungjawabnya juga tanpa rasa besalahnya.

Melaksanakan kesalahannya diri kepada manusia lainnya dengan sengaja berniat ingin berbuat akan kejahatannya juga dengan sengaja berniat mahu menyakiti dan memukul manusia sesuka hati mengikut amarahnya nafsu sendiri.

Larangannya;-

🔛Merayakan perayaan kaum lainnya tanpa berniat juga tidak diri yang bersubahat dan mendatangkan akan kefitnahannya diri kepada mereka itu sendiri.

🔛Kembali kepada diri yang sebelumnya yang tidak beriman bersama mereka di dalam naungannya dengan menukar akan imej di kelaku zahir diri dan kata dari seorang yang telah beriman soleh dan solehah kembali kepada diri yang dahulunya tidak beriman besama di dalam situasi sebelumnya semata-mata kerana perasaan malu dan tercabarnya diri dan maruah kepada rakannya yang terdahulu pernah besama dalam kekufurannya tersebut sebelum ini.


Tazkirah(pedoman hidup)bertajuk:-
Bermaksiat kepada Allah Azzawajjalla.

Sebagai sebuah teguran kepada diri sendiri juga pada sahabat lainnya mengajak bersama ke arah pembaikan diri dari yang kufur dalam(amar maqruf nahi mungkar)

Sebagai ummatnya yang beriman tidak perlu memandang hadistnya atau nak dengar teguran dari ibu atau sebagainya baru nak sedar?sedang perbuatan itu sendiri melanggar akan perintahnya.

Munafiknya diri mengaku beriman apabila masih tidak mahu sedar dan mengaku telah melakukan dosa kelalaian dalam melakukan kemaksiatannya diri depan Allah Azzawajjalla tanpa disedari merugikan diri sendiri.

Beberapa amalan kufur yang melanggar perintah dan larangannya hingga tidak sedar atau tidak tahu telah tergolong maksiat.

Sedangkan kemaksiatan yang kita lakukan sehari-hari itu kadang kala menjadi rutin dalam kehidupannya tanpa sedar telah dalam kebersamaan dirinya bersama si pelaku lainnya yang sedang bermaksiat.

1)Tidak mahu dikatakan kuno dan tidak mengikut arus peredaran zamannya didalam fesyen atau tred terkini hingga sanggup diri yang beriman telah merusakan keimanannya kerana malu kepada manusia yang up to date mengamalkan budaya sesatnya mengubah keberadaan yang sebelum ini telah menutup aurat dan segala jati dirinya yang suci hatinya sebelum ini untuk dia bersama mereka yang masih duduk dalam kekufuran mereka yang bermaksiat itu.

2)Kemaksiatan diri yang tidak disedari diri yang ikut-ikutan bersama mereka yang berada didalam keadaan dan situasi  yang sedang melakukan kelalaiannya diri mereka didepan Allah Azzawajalla seperti menghabiskan waktu dengan sia-sia berfoya-foya,membuang duit dengan berjudi,game dan mengamalkan pergaulan bebasnya,begelak ketawa tanpa had,bersembag,mengumpat dan membuang masa dengan melepak di pasaraya,di kedai kopi,di pub dan club malam tanpa arah tujuan yang berfaedahnya untuk dunia dan akhiratnya adalah bermaksiat didepan Rabbnya seumpama kita juga meraikannya dan menyokong perbuatan mereka yang bermaksiat walaupun tidak melakukan perbuatan tersebut.

Sedarilah,elaklah diri dalam ingin berniat untuk menyertainya serta istigfarlah yang sesungguhnya kerana lupa lalai dan alpanya diri kepada Allah Azzawajjalla penyebab diri yang tersasar dilandasannya yang benar.

Telah berkata IMAM AL-GHAZALI :

Sesiapa sahaja yang sering duduk bersama 8 orang kelompok manusia, Allah akan memberinya 8 perkara:

1.من جلس مع اﻷغنياء زاده الله حب الدنيا والرغبة فيها.
1. Barangsiapa yang duduk bersama orang-orang kaya, Allah akan menambahkan cinta kepada dunia & semangat untuk mendapatkan dunia.

2. ومن جلس مع الفقراء زاده الله الشكر والرضا بقسمة الله تعالى
2. Barangsiapa yang duduk bersama orang-orang miskin, Allah akan menambahkan perasaan syukur & redha atas pemberian Allah.

3. ومن جلس مع السلطان زاده الله الكبر وقساوة القلب
3. Barangsiapa yang duduk dengan para pemimpin/raja, Allah akan menambahkan perasaan sombong & kerasnya hati.

4. ومن جلس مع النساء زاده الله الجهل والشهوه
4. Barangsiapa yang duduk dengan perempuan, Allah akan menambahkan kebodohan & syahwat.

5. ومن جلس مع الصبيان زاده الله اللهو والمزاح
5. Barangsiapa yang duduk dengan anak-anak kecil, Allah akan menambahkan lalai & gurau senda.

6.ومن جلس مع الفساق زاده الله الجرأة على الذنوب والمعاصي واﻹقدام عليها،والتسويف في التوبة
6. Barangsiapa yang duduk dengan orang-orang fasik, Allah akan menambahkan berani berbuat dosa & kemaksiatan serta mendorongkan diri untuk berbuat maksiat kemudian menunda-nunda akan taubat.

7.ومن جلس مع الصالحين زاده الله الرغبة في الطاعات
7. Barangsiapa yang duduk dengan orang-orang soleh, Allah akan menambahkan perasaan cinta kepada amalan-amalan ketaatan. 

8. ومن جلس مع العلماء زاده العلم والورع
8. Barangsiapa yang duduk dengan para ulama', Allah akan menambahkan ilmu & perasaan tidak cintakan dunia.

(Kitab Tanbihul Ghofilin)

Barokallahufiikum.
Wallahu alam bissawab.
Sharekan sebagai manfaat pada yang lainnya yang mungkin tahu tapi lupa dan alpanya sebagai manuisa biasanya agar memberkatikan dunia akhirat kita bersama.

'Hanya diri sendiri yang memilih jalan yang mana benar wajib di turuti,"

BAB 2 :-ULANGKAJI PELAJARAN MUNAFIK DAN TAMBAHAN DARI GOLONGAN YANG TIDAK DI BERIKAN HAQ DI AKHIRAT KELAK.

Ciri orang yang mengaku beriman tetapi mendustai.

Jika masih tidak sedar dan insafinya tanpa memohon maaf serta berdoa meminta keampunan yang sesungguhnya niat berikhlas sebenar didepan Allah Azzawajaalla dan tanpa berusaha diri kearah pembaikannya diri akan merusakan segala amal baiknya serta segala keimanannya dalam diri telah tiada boleh menjerumuskan diri kelembah hinaan nerakanya.wallahu alam...

1)Munafik.

Ciri kemunafikan diri yang nyata didepan Allah Azzawajjalla,tidak melaksanakan segala akan perintah dan melaksanakan segala akan larangannya walaupun tahu akan pembalasan Azabnya meninggalkan perintahnya dan melakukan larangannya juga manusia yang hanya pandai berkata seolah seorang yang soleh dan solehah tetapi tidak beramal dengannya maka merosakan segala niat dan perbuatannya dan beranggapan diri yang sempurna dan sentiasa mencari salah diri manusia lainnya(menghukum diri manusia lain yang dia aggap tidak sempurna dimatanya)

📶Lafaz atau perkataan yang tidak seiringan dengan keniatan dihati dan juga perbuatan di zahir(tingkah dan laku)seperti hidup atau duduk didalam kepuraannya diri sendiri.

2)Mensyirikan.
Difinasi-
Perbuatan diri dan kelaku kearah yang bertentangan dengan ajaran islam yang sebenar.

1)Ciri orang yang mensyirikan Allah Azzawajjalla adalah bangga dan taksub memuji dan mengangungkan kehebatan manusia yang terlihat oleh matahatinya.

📶Percaya sebulatnya hati dan suara pada kata manusia lainnya,percaya pada bomoh dengan tangkalnya,doktor dengan ubatnya,pengamal perubatan lainnya,percaya kepada firasatnya zodiak,percaya pada gerakan dimata,tangan sebagainya di tubuh badan sendiri atau kecacatannya tubuh atau ketumbuhan lainnya di kulit tubuh dan wajah adalah sebuah petanda yang memberikan maksud sesuatu akan terjadi pada diri adalah petunjuk dari Allah Azzawajjalla,sedagkan jika benar terjadi ramalan dan perkara tersebut itu hanyalah sebuah kebetulannya yang Allah Azzawajjalla berkehendakan disaat kejadiannya itu tercipta terhadap diri dan tubuhnya.

📶Tanpa merenung siapakah yang lebih hebat adalah Penciptanya yang menciptakan dan memberi pinjamkan akan sesuatu pemberian dan kebolehan tersebut kepada manusia yang terpilih itulah yang maha hebatnya tiada dapat dibandigkan selain dengan yang lainnya.

3)Menyekutukan.
Difinasinya-Menyamakan atau memperbanding bandingkan penciptaannya diantara penciptaan lainnya.

Ciri orang yang menyekutukan Allah Azzawajjalla,tidak percaya dan tidak yakin pada kekuasaan Allah Azzawajalla yang berkehendakan akan sesuatunya tidak terkecuali.

Memuji kehebatan atau keistimewaan manusia tanpa mrnyedari siapakah yang lebih hebat dan tidak pernah mahu menyedari bahawa anugerah atau keistimewaan yang di beri kepada insani yang terpilih itu adalah dia yang berkehrndakan.


📶hanya percaya pada ramalan dan taksub serta akur sujud pada petua dan ajaran lama dari nenek moyang terdahulu seolah jika melanggar larangannya pasti sesuatu kejadian buruk atau baik disebalik yang tersurat dan tersirat yang dimaknai dan diertikan itu akan terjadi tanpa memikirkan tiap buruk dan baik akan sesuatu kejadian dan segala akan sesuatu apapun pemberiannya adalah dia yang menciptakan dan mengkehendakinya terjadi maka kunfayakun(jadi...jadilah iya)tanpa pikirkan janji Allah itu pasti atas setiap apapun adalah diatas kehendaknya atau segalanya yang tercipta adalah takdirnya.(tanpa bole ditolak atau bole dipilih-pilih oleh kehendak hati sendiri tanpa usaha dan doanya kita tidak akan dapat mendapat petologannya melainkan iya yang berkehendakan berhasil ketolongannya tanpa di pintakan itu adalah pemberiannya adalah karuniaannya kepada manusia yang dipilih olehnya yang iya berkehendakan.

KESIMPULAN:-


"MENSYIRIKAN,MENYEKUTUKAN,MUNAFIK TIDAK MENDEKATKAN DIRI DI SYURGANYA KELAK JIKA TERSEDAR DARI KESILAPAN MASIH TIDAK MAHU BERTAUBAT,"


Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Kesimpulan penjelasan tentang dosa yaitu bahwa dosa adalah kesalahan-kesalahan yang berkaitan dengan pelaku sendiri, sedang baghyu  adalah melanggar hak manusia, maka Allâh mengharamkan ini dan itu”. [Tafsir Ibnu Katsir, 3/409]

BERPEGANG DENGAN KEBENARAN, TANPA MENGKONFRONTASIKANNYA DENGAN PERKATAAN MANUSIA
Allah berfiman

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

Dia-lah yang mengutus Rasulnya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama, meskipun orang-orang musyrik benci. [Ash Shaf:9]

Dalam ayat ini, Allah memberikan nikmat kepada semua manusia dengan mengutus Rasul dan Nabi terbaik kepada mereka dengan membawa sebaik-baik kitab dan risalahNya; yang mencakup penjelasan antara yang haq dan bathil, ilmu yang bermanfaat, amal shalih dan semua yang dibutuhkan oleh hamba demi kemaslahatannya di dunia dan akhirat, agar Allah meninggikan di atas semua agama dengan hujjah dan penjelasan, dan agar Allah memenangkan orang-orang yang teguh melaksanakannya dengan pedang dan panah.

Allah memerintahkan kepada kaum mukminin agar berpegang teguh dengan agama yang benar dan manhaj yang jelas ini, dalam semua urusan mereka, supaya mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Allah memperingatkan kepada mereka agar tidak berpaling atau berpegang dengan agama yang lain. Allah Azza wa Jalla berfirman.

اتَّبِعُوا مَآأُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ وَلاَتَتَّبِعُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَآءَ قَلِيلاً مَاتَذَكَّرُونَ

Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb-mu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selainNya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (dari padanya). [Al A’raf :3].

Para ahli tafsir mengatakan, yang dimaksud (dengan kata maa, Red) adalah Al Qur’an dan Sunnah; karena ia sebagai penjelas dan tafsir bagi Al Qur’an.
Firman Allah :

وَلاَتَتَّبِعُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَآءَ

dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selainNya.


يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ 

Yukhādi’ụnallāha wallażīna āmanụ, wa mā yakhda’ụna illā anfusahum wa mā yasy’urụn  

9.  Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Mereka meyakini dengan  kejahilan mereka bahwa mereka telah berhasil menipu  Allah dan orang-orang mukmin dengan menampakan keimanan dan menyembunyikan kekufuran mereka, padahal tidaklah mereka menipu kecuali diri mereka sendiri sebab akibat buruk dari tipu daya mereka itu hanya berbalik kepada mereka sendiri dan karena parahnya kebodohan mereka, mereka tidak menyadari hal tersebut dikarenakan rusaknya hati mereka


TERPEDAYA DI ATAS DORONGAN QARINNYA.

Difinisi-Hidup dalam kepuraan semata di depan manusia lainya bersaksi akan Rabbnya.

Tidak perlu di pertikaikan lagi bahawa di dalam diri setiap insaninya itu sendiri mempunyai jin(qarinnya) yang membuat diri tergolong dari yang islam atau kafirnya adalah dari ujian keimanannya diri terhadap Rabbnya.

Berbagai kemunafikan diri yang Mengaibkan serta memalukan dirinya mereka sendiri telah terlaksanakanya tanpa disedari dan sebaliknya di depan manusia lain bersaksi akan Rabbnya.

Golongan Munafik ini berada di kalangan mereka yang tahu akan dosa dan pahala serta baik buruknya akan sesuatunya, meraka dengan sentiasa tampil dengan berani menyuarakan akan sebuah kebenarannya,tetapi di sebalik kata-kata itu tidak pernah di rasakan di sanubarinya.

Perilaku(sikap zahir kata)makna dan erti percakapanya juga(sikap zahir kelaku)sikap dan perbuatannya tidak seiringan dengan keniatan baik atau buruknya di hati(qolbu) di peribaannya.

Sebahagian mereka berperangai syaitan yang suka kepada persengketaan untuk kepuasannya diri sendiri.

Ciri-ciri MANUSIA QARIN.

Menambah cerita atau kisah manusia lainnya kepada manusia lainnya untuk mengaib serta mahu memporak perandakan 2 hubungan diantara manusia lainya atau lebih bilangan.

Mereka terdiri dari manusia bertopengkan jin kafir(qarin) yang sentiasa cuba mengawasi diri setiap manusia ciptaanya di setiap lapisan nafsunya jika tidak disedari akan terhasut oleh qarinya,hanya sebuah kesedarannya juga kekuatan diri yang beriman menyerahkan sepenuh hatinya kepada Sang Penciptanya sahaja akan terselamat dari hasutan diri sendiri terhadap nafsunya terjagakan.

Mencari salah silap manusia lainya dengan berniat tidak baik tanpa di sedari diri yang sedang melakukan kemungkarannya diri di depan Rabbnya tidak sedikit pun mahu di sedari serta mahu berusaha dan berdoa bersungguhnya untuk tidak menyimpan sikap sedemikianya serta tidak mahu untuk meneruskan perilaku dan sikap sebegitunya walaupun setengah mereka telah menyedari akan kekufurannya diri mereka di depan Rabbnya.

Tidak perlu dalil atau hadistnya baru mahu percaya serta nasihat dari lainnya jika mahu merubahkan diri sendiri hingga (qarinnya)tidak dapat memesongkan akidahnya,kerana dengan menilai sendiri bahawa perbuatan dan perilaku jenis tersebut itu sendiri jelas sebenarnya terlihat tidak elok dan tidak benar untuk terlaksanakan untuk di bawa bersama-sama ke jalan yang di redhai oleh Allah Azzawajalla.

Perwatakan mereka yang berupa-rupa saling tidak tumpah seperti seekor iblis(ketua) mereka sendiri kepada kelakuan syaitanya diri yang mempunyai keistimewaannya yang tersendiri dapat berubah-ubah kategorinya sifat,kelaku(perkataan dan perbuatan zahinya diri)untuk menutupi siapa dirinya yang sebenar adalah kebolehan yang sedia ada pada golongan manusia jenis ini.

Sekelip mata berubah manis di bibir memutar kata serta  berbudi bahasa dan pekerti di depan manusia yang di bencinya sedangkan sebelum ini tidak sebegitu,kadang kala sikapnya tidak terjangkakan, hari ini tidak sama dengan semalamnya,sikap dan perilaku tidak sama sentiasa berubah mengikut masa dan waktu dia kehendakinya dari kemahuannya diri sendiri sebagai untuk dia memulakan ceriteranya yang mahu diciptakan oleh kehendak dirinya sendiri dari hasutan qarinnya yang masih(kafir).

Kadangkala mereka bersikap kufur mengaibkan,memalukan,menghina dan mencerca tanpa bukti kukuh dari fitnah yang tersampaikan(juga kadangkala ciptaannya)sengaja mencungkil cerita agar tercipta fitnah dalam sengketanya,dengan rasa dan riak wajah muka yang tidak bersalah bersikap mulianya menghulurkan tangan meminta maaf tanpa di pinta adalah tidak berikhlas,terus mereka yang di ajak untuk besama dalam permainan ciptaanya akan di tikam olehnya dari belakang dengan pelbagai usahanya diri mahu menjatuhkan mereka tanpa dapat disedari oleh manusia lainnya.(pendengar ceriteranya)

Mereka hanya meminjam semua perwatakan mulia ini sebagai sebuah perangkapnya kepada manusia yang di ajak memulakan alkisahnya dalam acara sengketa yang menyengketakan diantara sesama sendiri.



  • Daripada Abdillah bin Mas’ud RA, bahawa Nabi SAW bersabda:

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ، إِلَّا وَقَدْ وُكِّلَ بِهِ قَرِينُهُ مِنَ الْجِنِّ قَالُوا: وَإِيَّاكَ؟ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: وَإِيَّايَ، إِلَّا أَنَّ اللهَ أَعَانَنِي عَلَيْهِ فَأَسْلَمَ، فَلَا يَأْمُرُنِي إِلَّا بِخَيْرٍ
Maksudnya: “Tidaklah setiap orang daripada kamu itu (yang lahir ke dunia) melainkan dia telah diutuskan bersamanya qarinnya (teman) daripada kalangan jin. Mereka (Sahabat) bertanya: Adakah kamu juga wahai Rasulullah SAW?  Baginda SAW menjawab: Dan aku juga melainkan Allah telah membantuku daripada gangguannya maka aku terselamat dan tidaklah ia (qarin) mendorongku kecuali pada perkara kebaikan.” [Riwayat Muslim (2814)]

Jawapan:
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT, selawat dan salam kepada junjungan besar Nabi Muhammad SAW, ahli keluarga baginda SAW, sahabat baginda SAW serta orang-orang yang mengikuti jejak langkah baginda SAW.

Setiap manusia yang lahir ke dunia ini akan ada bersamanya qarin daripada kalangan jin sebagaimana yang dinyatakan di dalam hadith yang sahih. Tugas qarin ini adalah mendorong manusia untuk melakukan sesuatu perkara samada perkara tersebut baik atau sebaliknya. Antara dalil yang membuktikan bahawa qarin ini wujud adalah:

  • Firman Allah SWT
وَقَالَ قَرِينُهُ هَـٰذَا مَا لَدَيَّ عَتِيدٌ
Qaaf:23
Maksudnya: “Dan berkatalah qarinnya yang sentiasa ada bersama-samanya: Inilah (Kitab catatan amal manusia) yang terletak di dalam jagaanku serta yang siap sedia (untuk dibicarakan).”


  • Firman Allah SWT
قَالَ قَرِينُهُ رَبَّنَا مَا أَطْغَيْتُهُ وَلَـٰكِن كَانَ فِي ضَلَالٍ بَعِيدٍ
Qaaf:27
Maksudnya: “Telah berkata qarinnya: Wahai Tuhan kami, aku tidak menyesatkannya tetapi sememangnya dia sendiri berada di dalam kesesatan yang jauh terpesong.”

Imam al-Qurthubi (671 H) ketika menafsirkan ayat ini menyatakan bahawa yang dimaksudkan dengan qarin di dalam ayat pertama iaitu ayat ke 23 adalah malaikat yang diutuskan untuknnya menurut pendapat al-Hasan, Qatadah dan Dhahhak. Manakala, qarin di dalam ayat ke 27 adalah syaitan yang didatangkan oleh Allah SWT kepada hamba yang berdosa ini, di mana syaitan ini berlepas diri daripada perbuatannya (iaitu menyesatkan hamba ini) serta mendustakannya. [Lihat: Tafsir al-Qurthubi, 16-17/17]

Kedudukan Dan Makna Hadith
Hadith yang menceritakan berkaitan qarin ini merupakan hadith yang sahih dan ia diriwayatkan oleh Imam Muslim (261 H) di dalam sahihnya. Tambahan pula, hadith ini diletakkan di dalam kitab sifat Kiamat, Syurga dan Neraka.

Imam al-Nawawi (676 H) berkata perkataan “فَأَسْلَمَ” dengan membaca huruf mim dengan baris depan atau dengan baris atas dan kedua riwayat ini adalah masyhur. Barangsiapa yang membacanya dengan baris depan, maknanya adalah Nabi SAW terselamat daripada keburukan dan fitnah qarin Baginda SAW. Adapun yang membaca dengan baris atas pula, maknanya adalah qarin tersebut telah masuk Islam dan beriman dengan tidak mendorong Nabi SAW melainkan pada perkara yang baik sahaja. Para ulama’ berselisih pendapat dalam menentukan mana yang lebih tepat antara kedua ini. Menurut al-Khattabi (388 H) yang sahih dan dipilih adalah dengan baris depan. Selain itu, al-Qadhi ‘Iyadh (544 H) mengsahihkan baris atas dan itu adalah dipilih (pilihan al-Qadhi dan al-Nawawi) berdasarkan Sabda Nabi SAW “maka tidaklah ia (qarin) mendorongku kecuali pada perkara kebaikan.” Para ulama’ juga berselisih pendapat pada riwayat yang dibaca dengan baris atas, dikatakan “أَسْلَمَ” dengan makna berserah diri (اسْتَسْلَمَ) dan tunduk (kepada Islam). Telah datang riwayat seperti ini selain daripada Sahih Muslim dengan “فَاسْتَسْلَمَ”. Dikatakan juga maknanya adalah qarin tersebut menjadi muslim yang beriman dan ini adalah yang zahir. Telah berkata al-Qadhi bahawa ketahuilah umat ini telah bersepakat akan kemaksuman (terpeliharanya) Nabi SAW daripada syaitan pada jasadnya, lintasannya dan lidahnya. Pada hadith ini juga terdapat isyarat agar berhati-hati dengan fitnah, waswas dan kesesatan (menyesatkan manusia) qarin ini. Untuk itu, kita perlulah menjauhi perkara ini semampu kita. [Lihat: al-Minhaj Syarah Sahih Muslim, 157-158/17]

Antara ulama’ yang mengatakan bahawa qarin Rasulullah SAW masuk kepada Islam adalah Imam al-Suyuthi (911 H) di dalam kitabnya ketika meletakkan hadith ini di dalam bab Pengkhususan Nabi SAW dengan islamnya qarin Baginda SAW. [Lihat: al-Khasais al-Kubra, 323/2]Selain itu juga, Imam Ibn Hajar al-Haitami (974 H) juga menyatakan yang dimaksudkan dengan “فَأَسْلَمَ” adalah masuk kepada Islam dan ini merupakan pengkhususan bagi Nabi SAW. [Lihat: al-Fatawa al-Hadithiyyah, 52/1]

Kami cenderung kepada pendapat yang dipegang oleh al-Qadhi dan juga al-Nawawi bahawa qarin Rasulullah SAW masuk kepada Islam. Ini merupakan khususiyyah (pengkhususan) Nabi SAW yang tidak ada pada orang lain. Di samping itu juga, qarin itu adalah jin sebagaimana dinyatakan di dalam hadith dan jin ini ada yang baik dan ada yang jahat. Ini berdasarkan firman Allah SWT:

وَأَنَّا مِنَّا الصَّالِحُونَ وَمِنَّا دُونَ ذَٰلِكَ
al-Jin:11
Maksudnya: “Dan bahawa sesungguhnya (memang maklum) ada di antara kita golongan yang baik keadaannya dan ada di antara kita yang lain daripada itu.”

Penutup
Kesimpulannya, para ulama’ berbeza pandangan dalam dalam memahami lafaz “فَأَسْلَمَ” ini kepada dua pendapat sebagaimana yang kami nyatakan di atas. Walaupun begitu, kita sebagai seorang muslim yang mengaku beriman kepada Allah SWT agar sentiasa berhati-hati dengan dorongan qarin (syaitan) ini. Ini kerana, antara tugas qarin ini adalah menghasut manusia dan mendorong mereka melakukan kejahatan. Untuk itu, kita dituntut untuk sentiasa berlindung daripada hasutan dan bisikan syaitan dengan memperbanyakkan isti’azah atau mengucapkan “أعوذ بالله من الشيطان الرجيم” sebagaiman yang dianjurkan dan diajar oleh Rasulullah SAW. Hal ni juga, disebutkan melalui firman Allah SWT:

مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ ﴿٤﴾ الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ ﴿٥﴾ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ ﴿٦﴾
al-Nas:4-6
Maksudnya: “Daripada kejahatan pembisik (penghasut) yang timbul tenggelam, yang melemparkan bisikan dan hasutannya ke dalam hati manusia, (iaitu pembisik dan penghasut) daripada kalangan jin dan manusia.”

Akhirnya, semoga Allah SWT sentiasa memelihara dan memberi kekuatan kepada kita agar dapat mengawal diri yang lemah ini daripada segala hasutan dan bisikan syaitan yang direjam serta mengurniakan kepada kita semua pengakhiran hidup yang baik. Amin.



 فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ 

fī qulụbihim maraḍun fa zādahumullāhu maraḍā, wa lahum ‘ażābun alīmum bimā kānụ yakżibụn  

10.  Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. Di dalam hati mereka terdapat keraguan dan kerusakan akibatnya mereka diuji Allah dengan berbuat berbagai macam maksiat yang mewajibkan adanya siksaan bagi mereka, sehingga Allah pun menambah keraguan pada hati mereka dan bagi mereka siksaan yang menyedihkan akibat kedustaan dan kemunafikan 

Ulasan

Catatan popular daripada blog ini

KECACATAN NALURI FIZIKAL INSANI DALAM GOLOANGAN IMPOTENT DAN KHUNSA.

Asalamualaikum. Bismillahirrohmanirrohim. Penjelasan terperinci tentang orang golongan impotent,mukhanats,khunsa musykil dan khunsa ghairu musykil. Adakah kita atau sanak saudara serta sahabat handainya yang tergolong dalam keberadaannya diharap dapatlah kiranya dengan perkongsian ini maka bermanfaat pada yang lainnya diatas penciptaan yang agak tidak releven dan tidak masuk di akal fikir bagi mereka yang tidak pernah terdedah dengan sebuah kebenarannya yang hakiki ini dapat membukakan mata hati di akal fikir kita semua agar tidak sesama kita bersengketa saling hukum menghukumi mereka yang berada di dalam LGBT tersebut juga bukan semua adalah tidak benar keperibaannya,adalah segelintir makhluk ciptaanya yang telah memesobgkan diri mereka sendiri dengan mengubah ciptaan asalnya di hakikat diri hingga sewenang mengubah fikah diri wanita di luaran dengan berpakaian seperti lelaki dan tampak seperti lelaki dan lelakinya mengubah fikah diri dan tampak wanitanya adalah segolonga...
  HIKMAH ALFATIHAH PEMBUKA            QALAMULLAH KITABULLAH                        AYATUL QURANI   1.  Membaca surat Al-Fatihah mendapat pahala seperti membaca sepertiga Al Quran . 2.  Setiap satu ayat dari Al-Fatihah menjadi penutup satu pintu neraka. 3.  Orang yang membaca Al-Fatihah seolah ia telah membaca kitab taurat, injil, zabur,  Al Quran, suhuf idris As. dan suhuf Ibrahim As. sebanyak 7 kali. 4.  Orang yang membaca Al-Fatihah seolah olah ia telah sedekahkan emas di jalan Allah SWT. 5.  Amalkan membaca Al-Fatihah sebanyak 70 kali setiap hari dalam keadaan berwudhu ‘ dan ditiupkan pada air lalu diminum selama tujuh hari. Insya Allah akan mudah memperoleh ilmu pengetahuan, di samping itu dapat membersihkan hati dari fikiran yang rosak. 6 . Sesiapa membaca Al-Fatihah berserta Bismillah diantara Solat Sunat Subuh dan Fardhu Subuh ...

'DUNIA DAN AKHIRAT SEIRINGAN,"

'Cinta dunia semata,"akhirat akan pergi berlari meninggalkan kita,"Cinta Akhirat semata,"Dunia akan berlari mengejar kita," Jiwa kosong(hidup tiada maknanya lagi). 'Jika mahu di berkatikan kehidupan akan kedua dari alam dunia dan alam akhiratnya," 'Seiringkan keduanya yang saling melengkapikan agar tidak pincang tegap berdiri agamanya," 'Nak berjaya dunia dan akhirat kena ada ilmunya," 'Nak ilmu kena dengan ilmunya,"Tiada ilmu bagaimana untuk mendapatkan ilmu yang benar dan diredhainya untuk dunia hingga ke akhiratnya," 'Ilmu itu ada dalam sebuah kehidupannya di alam maya dan di sekeliling kita yang menjadi penyaksian Rabbnya di dalam qalamnya sebuah Alquran maka gali dan usahalah beserta Doa dan pengharapannya agar terbuka akan hijabnya ilmu di peribaannya diri di saat bermunajat yang sesungguhnya di depan Rabbnya sang Pencipta akan memberkatikan diri untuk dunia dan akhiratnya," 'Tidaklah mend...